Langsung ke konten utama

MENENGOK PENINGGALAN SEJARAH DI KARAWANG


karawang
Monumen Karawang

Karawang merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di Propinsi Jawa Barat, berbatasan dengan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor. Kota ini dijuluki pula kota padi. Ada begitu banyak peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di kota Karawang. 

Karawang yang berjuluk kota padi atau kini dijuluki kota pangkal perjuangan ini, memang memiliki beberapa objek wisata alam dan objek wisata sejarah. Mulai dari Curug Cijalu yang terletak di Selatan Karawang, samapi objek wisata sejarah yang berkaitan erat dengan Kemerdekaan Negara Indonesia, seperti peristiwa penculikan Soekarno Hatta ke Rengas Dengklok dan peristiwa pembantaian warga sipil di Rawa Gede, dan ada pula wisata candi peninggalan Kerajaan Tarumanegara di daerah Batujaya. 

monumen rawagede
Monumen Rawa Gede
Dimulia dari sejarah monumen Rawagede yang terletak di Kecamatan Rawamerta. Objek wisata Monumen Rawagede ini dibangun untuk memperingati peristiwa pembantaian warga sipil oleh tentara Belanda. Monumen ini dibangun seperti piramida. Sekilas mirip Monumen Jogja Kembali, namun ukurannya lebih kecil. Di kompleks monumen ini terdapat puluhan makam warga sipil yang menjadi korban pembantaian Belanda. 


Bangunan monumen ini memiliki 2 lantai dan disisi dinding luarnya di hiasi relief perjuangan warga Rawagede. Di lantai dasar ada diorama pembantaian warga sipil oleh Belanda, sementara di lantai atas tedapat patung seorang perempuan yang memangku tubuh anak dan suaminya yang tewas akibat peristiwa ini, dan dibelakang patung itu terdapat puisi yang sudah terkenal milik Chairil Anwar yang berjudul “Karawang Bekasi”. 

monumeen rengas dengklok
Monumen Rengas Dengklok
Destinasi berikutnya adalah monumen Kebulatan Tekad dan rumah tempat penculikan Soekarno Hatta yang ada di Rengas Dengklok. Monumen Kebulatan Tekad ini dibuat untuk mengenang peristiwa Rengas Dengklok, yaitu peristiwa penculikan Soekarno Hatta. Di mana pada peristiwa tersebut telah terjadi kesepakatan untuk memproklamirkan Kemerdekaan RI dengan secepatnya. 

Disini sekarang terdapat dua buah monumen kebulatan tekad, satu buah monumen lama dan satu lagi monumen yang baru selesai pengerjaanya. Monumen kebulatan tekad yang baru, yaitu patung tiga tangan yang bersamaan menjunjung tingggi ke atas sebagai bentuk semangat para pejuang Indonesia di zaman dulu. Harapannya bisa menjadi isnpirasi semangat juang bagi generasi muda masa kini. 

Monumen berikutnya dikenal dengan sebutan Tugu Bojong. Didekat monumen itu terdapat sebuah pandopo, yaitu tempat duduk yang melingkar seperti rumah namun tidak berdinding, guna untuk persediaan bagi para pengunjung objek wisata. Ditengahnya ada sebuah lapangan yang setiap tahun dijadikan tempat upacara Kemerdekaan. Setiap sore tempat itu selalu ramai oleh para pemuda dan anak-anak sekolahan. Tempatnya juga sejuk dan nyaman. Tempat itu juga dijadikan sebagai tempat tongkrongan favorit bagi anak-anak daerah Bojong. 

Monumen Karawag
Monumen Tugu Bojong
Tak jauh dari sana sekitar 500 M terdapat rumah bekas “penculikan” Soekarno Hatta yang sudah dipindahkan. Bangunan rumah ini masih dipertahankan bentuk aslinya yang bergaya Betawi serta didominasi warna putih dan hijau. Di rumah ini terdapat tiga ruangan. Tiga ruangan itu terdiri dari dua buah kamar bekas Soekarno Hatta, sementara satu ruangan lagi yakni ruang tamu. Di kamar yang menjadi bekas Soekarno Hatta ini masih dipertahankan bentuk aslinya, sementara di ruang tamu terdapat foto-foto Soekarno Hatta serta pemilik rumah yang benama Djiaw Kie Siong. 

Itulah peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di kota Karawang. Sebenarnya amat disayangkan lantaran peminat wisatawan sangat sedikit yang mengunjungi tempat-tempat bersejarah itu. Apalagi banyaknya rumor yang mengataka bahwa tempat-tempat bersejarah itu kini menjadi tempat pelecehan dan tidak terhormat. Namun sebagai warga Negara Indonesia yang baik kita harus tetap menjaga dan melestarikan warisan sejarah dari leluhur kita atau para pahlawan yang sudah berjuang membela Negara Indonesia hingga merdeka. 

Dari peninggalan-peninggalan sejarah Indonesia di berbagai kota, membuktikan bahwa peristiwa-peristiwa peperangan merebut kemerdekaan pada masa tersebut benar-benar ada dan terjadi. Maka dari itu kita semua harus tetap mengenang para pahlawan dengan menjaga, menghargai, serta melestarikan warisan peninggalan sejarahnya. Benedikta R. Gae Ps (mahasiswa PBSI UNY)

Postingan populer dari blog ini

PT BPR ( Bank Perkreditan Rakyat) DEWA ARTHAKA MULYA Menjadi Salah Satu Bank Perkreditan Rakyat Terbaik di Daerah Istimewa Yogyakarta

Direktur PT BPR DEWA ARTHAKA MULYA, Rahadiyan Dewanto. SH. MKn Saat Foto Bersama Karyawan Yogyakarta ( MediaRakyat.co.id )  - PT BPR DEWA ARTHAKA MULYA yang berdiri sejak tanggal 9 Februari 2009 beralamat di Jalan Palagan Tentara Pelajar Km. 8,5 Sariharjo, Ngaglik Sleman. BPR DEWA ARTHAKA MULYA yang diawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan menjadi salah satu peserta LPS (Lembaga Penjaminan Simpanan) serta sebagai salah satu lembaga keuangan yang menunjang pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Direktur PT BPR (Bank Perkreditan Rakyat) DEWA ARTHAKA MULYA, Rahadiyan Dewanto, SH., MKn saat diwawancarai MediaRakyat.co.id pada 12/02/2019 malam disela-sela acara Malam Perayaan Tahun Baru Imlek 2570 Perhimpunan Fuqing Yogyakarta di Gedung Asia Pasific Jl. Magelang menyampaikan ada beberapa nasabah BPR DEWA ARTHAKA MULYA yang ikut di acara ini kemudian kami di

Diduga Oknum Notaris dan Advokad Yogya Terlibat Pemalsuan Keterangan Waris

Pengejaran Kasus Direktur  Bonbin  KMT Antonius Tirto Diprojo  Yogya ( Mediarakyat.co.id ) -  Permohonan Pra Peradilan tidak diterima Hakim tunggal Pengadilan Negeri Sleman, FX Heru Susanto S.H., M.H. (Kamis 14/12). Meski demikian Ny Ayem alias Sie Biok Ngiok (71 th) warga Jln. Kyai Mojo No. 43 kec. Tegalrejo Kota Yogyakarta, tetap tegar, tidak putus asa, dan besemangat mencari kebenaran serta keadilan hukum kepada pihak yang berwajib.  Bahkan kini pihaknya mendesak kepada penyidik Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk melanjut kasus terlapor KMT Antonius Tirto Diprojo alias Antonius Joko Tirtono, Direktur Kebon Binatang (Bonbin) Gembira Loka Yogyakarta yang telah dilaporkan tanggal 27 Oktober 2017 nomor: Lp/58/X/2017 DIY/SPKT. Baca Juga: Perusahaan Bangkrut Masih Dihukum 10 Bulan Dalam laporan itu, KMT Antonius Tirto Diprojo alias Antonius Joko Tirtono, tanggal 24 Juli 2017 sekitar pukul 11.00 WB di kantor Polda DIY, telah diduga melakukan suatu perbua