Langsung ke konten utama

Suparyana

         Sejarah Nama Desa  Giricahyo

                          Kades Giricahyo, Suparyana

Gunungkidul (mrediarakyat.co.id). Ringkasan sejarah terjadinya nama desa Giricahyo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul, Propinsi DIY, para tokoh masyarakat berembug dengan menghadirkan para sepuh, sesepuh yang sedikit banyak mengetahui asal-usul sejarah nama desa Giricahyo. Para sepuh, dan sesepuh ini dimintai keterangan agar mereka masing-masing menceritakan yang berkaitan asal usul nama Giricahyo tersebut. Sehingga dari masing-masing pendapat disingkronkan untuk diambil kesimpulannya. Demikian keterangan Kepala Desa, Suparyana saat ditemui di kantor desa pada Kamis Pahing (19/9) lalu.
Selanjutnya Suparyana menjelaskan mengenai asal usul desa Giricahyo seperti apa yang telah diceritakan dalam forum pertemuan diantaranya;
Rawuh lelono  (datang mengembara) ini ada beberapa nama yang datang mengembara di hutan ini untuk membuka lahan agar dikelak kemudian menjadi perdesaan  yakni: Kyai Alun, Kyai Segoro, Kyai Adjar, Kyai Iro Gotro, Kyai Lawas, Kyai Gendruk Ewer.
Beberapa tahun kemudian istilah bahasa Jawa "Rawuh lelono ingkang kaping kalih" atau disebut kedatangan yang ke dua, juga bertujuan melanjutkan tujuan para pendahulunya agar lokasi ini lebih aman dan nyaman untuk hunian, mereka itu adalah: Kyai Sindubojo, Nyai Sindubojo, Nyai Kukap, Kyai Gilingwesi, Kyai Dhong Turi, dan mereka menganut agama Hindu/ Budha.
Beberapa tahun kemudian datanglah pendatang dari pantai selatan yang menganut Islam yang ia terima ajaran itu dari Kerajaan Demak Bintoro beliau adalah Kyai Danukusumo yang selanjutnya menginjak jaman kaprajan atau jaman peme- rintahan.
Jaman pemerintahan ini diang- katlah:
Bekel Ke-1, Bernama  Kyai Driyo Setiko dari Jambu, dan Kyai Sutodrono dari Karangtengah nama kabekelan tersebut disebut Kabekelan Jambu. Berkaitan dengan perkembangan dari kabekelan dirubah menjadi kalurahan. Sedang  untuk lurah ke-1 adalah Kyai Singo Dimedjo dari Karangtengah sehingga kakurahan disebut Kalurahan Karangtengah selama 8 tahun dari tahun 1919 s/d 1926.
Lurah ke-2 adalah Kyai Ponco rejo berasal dari Jambu maka kalurahan tersebut disebut Kalurahan Jambu selama 13 tahun dari tahu. 1926 s/d 1938.Lurah ke-3 adalah Djojo Sumarto berasal dari Jambu pusat kelurahan dikembalikan di Karangtengah selama 7 tahun dari tahun 1938 s/d 1944.
Lurah ke-4 adalah Hardjo Winoto dari Giricahyo selama 21 tahun dari tahun 1944 s/d 1965.
Lurah ke-5 adalah  Sastro dihardjo selama 31 tahun dari tahun 1965 s/ 1994.
Lurah ke-6 adalah Suratman MP dari Jambu selama 8 tahun dari tahun 1994 s/d 2002.
Lurah ke-7 adalah Tukiran HS dari Karangtengah  selama 6 tahun dari tahun 2002 s/d 2008.
Lurah ke-8  adalah Hariadi SPd. selama 6 tahun dari tahun 2008 s/d 2016.
Lurah ke-9 adalah Suparyana dari tahun 2016 s/d 2022.

Postingan populer dari blog ini

MENENGOK PENINGGALAN SEJARAH DI KARAWANG

Monumen Karawang Karawang merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di Propinsi Jawa Barat, berbatasan dengan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor. Kota ini dijuluki pula kota padi. Ada begitu banyak peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di kota Karawang.  Karawang yang berjuluk kota padi atau kini dijuluki kota pangkal perjuangan ini, memang memiliki beberapa objek wisata alam dan objek wisata sejarah. Mulai dari Curug Cijalu yang terletak di Selatan Karawang, samapi objek wisata sejarah yang berkaitan erat dengan Kemerdekaan Negara Indonesia, seperti peristiwa penculikan Soekarno Hatta ke Rengas Dengklok dan peristiwa pembantaian warga sipil di Rawa Gede, dan ada pula wisata candi peninggalan Kerajaan Tarumanegara di daerah Batujaya.  Monumen Rawa Gede Dimulia dari sejarah monumen Rawagede yang terletak di Kecamatan Rawamerta . Objek wisata Monumen Rawagede ini dibangun untuk memperingati peristiwa pembantaian warga sipil oleh tentara Belanda. Monumen ini d

Diduga Oknum Notaris dan Advokad Yogya Terlibat Pemalsuan Keterangan Waris

Pengejaran Kasus Direktur  Bonbin  KMT Antonius Tirto Diprojo  Yogya ( Mediarakyat.co.id ) -  Permohonan Pra Peradilan tidak diterima Hakim tunggal Pengadilan Negeri Sleman, FX Heru Susanto S.H., M.H. (Kamis 14/12). Meski demikian Ny Ayem alias Sie Biok Ngiok (71 th) warga Jln. Kyai Mojo No. 43 kec. Tegalrejo Kota Yogyakarta, tetap tegar, tidak putus asa, dan besemangat mencari kebenaran serta keadilan hukum kepada pihak yang berwajib.  Bahkan kini pihaknya mendesak kepada penyidik Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk melanjut kasus terlapor KMT Antonius Tirto Diprojo alias Antonius Joko Tirtono, Direktur Kebon Binatang (Bonbin) Gembira Loka Yogyakarta yang telah dilaporkan tanggal 27 Oktober 2017 nomor: Lp/58/X/2017 DIY/SPKT. Baca Juga: Perusahaan Bangkrut Masih Dihukum 10 Bulan Dalam laporan itu, KMT Antonius Tirto Diprojo alias Antonius Joko Tirtono, tanggal 24 Juli 2017 sekitar pukul 11.00 WB di kantor Polda DIY, telah diduga melakukan suatu perbua

PT BPR ( Bank Perkreditan Rakyat) DEWA ARTHAKA MULYA Menjadi Salah Satu Bank Perkreditan Rakyat Terbaik di Daerah Istimewa Yogyakarta

Direktur PT BPR DEWA ARTHAKA MULYA, Rahadiyan Dewanto. SH. MKn Saat Foto Bersama Karyawan Yogyakarta ( MediaRakyat.co.id )  - PT BPR DEWA ARTHAKA MULYA yang berdiri sejak tanggal 9 Februari 2009 beralamat di Jalan Palagan Tentara Pelajar Km. 8,5 Sariharjo, Ngaglik Sleman. BPR DEWA ARTHAKA MULYA yang diawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan menjadi salah satu peserta LPS (Lembaga Penjaminan Simpanan) serta sebagai salah satu lembaga keuangan yang menunjang pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Direktur PT BPR (Bank Perkreditan Rakyat) DEWA ARTHAKA MULYA, Rahadiyan Dewanto, SH., MKn saat diwawancarai MediaRakyat.co.id pada 12/02/2019 malam disela-sela acara Malam Perayaan Tahun Baru Imlek 2570 Perhimpunan Fuqing Yogyakarta di Gedung Asia Pasific Jl. Magelang menyampaikan ada beberapa nasabah BPR DEWA ARTHAKA MULYA yang ikut di acara ini kemudian kami di