Langsung ke konten utama

 Ritual di Kali Pego dan Manfaatnya                   


Gunungkidul (Media Rakyat.cinta.id)                        

Konon ceritanya bahwa di kawasan Kalurahan Giri Asih, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ada sebuah kali  dalam gua yang disebut Kali Pego. Kali Pego ini selain   menyimpan misteri dari nenek moyang hingga sekarang dipercayai oleh warga masyarakat karena memberikan manfaat yang sangat luar biasa di samping airnya untuk kebutuhan warga sehari-hari di tiga pedukuhan yakni;  Pedukuhan Won&olagi, Pedukuhan Ngoro-oro, dan Pedukuhan Trasih, juga bagi para kaum muda  yang ingin menjalankan akad nikah perkawinan harus berkunjung ke Kali Pego ini..

Diceritakan Kali Pego  sejak turun temurun dari nenek moyang hingga sekarang setiap tahun diadakan ritual  secara adat dengan mengadakan kenduri. Acara kenduri ini jatuh pada hari Jumat Wage diantara pada bulan April, Mei, atau Juni. Acara kenduri ini dari masing-masing warga membawa nasi ambeng beserta lauk pautnya, juga jadah umbi uwi dan gethok umbi uwi yang dikemas dengan tempat yang menarik.  Seusai berdoa yang dipimpin oleh juru kuncinya  yakni bapak Mulyadi, kemudian sajian tersebut disantap bersama-sama namun tetap menjalankan 5 M anjuran dari Protokol Kesehatan. Seusai makan bersama kemudian sajian tersebut di tukar tukarkan dengan sajian milik orang lain sehingga yang di bawa pulang bukan lagi bawaan yang semula di bawa dari rumah.

Adapun mengenai warga yang ingin menjalankan ijab qobul layaknya menurut agama dan kepercayaannya masing-masing, namun untuk  ritual di Kali Pego ini tetap dilaksanakan. Menurut cerita yang di kisahkan,  setelah usai dalam melaksanakan acara adat yang telah diyakininya mempelai berdua di arak oleh keluarga baik dari mempelai laki-laki maupun perempuan dan sanak kerabat untuk mendatangi Kali pego. Pertama kali kedua mempelai untuk berkaca di aliran sungai dengan maksud bahwa dirinya sudah tidak sendirian yakni sudah bersuami isteri sehingga dalam menjalankan kekeluargaan lebih berhati-hati, ibarat hati satu menjadi dua, atau sebaliknya kedua hati menjadi satu, sehingga dalam menjalankan arah bahtera dalam keluarga seiring dan  sejalan se akan  ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.

Kemudian mempelai berdua mengusap wajah dengan dari  air Kali Pego itu dimaksudkan kedua belah pihak untuk menghilangkan pandangan yang tidak searah dari keduanya dan terlepas dari kesalahan. Seakan dirinya sudah bersih lahir dan batinnya untuk itu harus berhati-hati dalam menjalankan bahtera keluarga.

Kali Pego ini terletak di areal seluas satu hektar yang dirimbuni oleh beberapa tumbuh-tumbuhan yang umurnya lebih kurang 100 tahunan. Tumbuhan tersebut diantaranya; Munggur, Lo, Kedoya, Bendo, Bintaro, Sinto, Inggu, Trebelo, Ingas, Pule, Pelem, Aren, Sono Keling, Kroyo, Beringin dan Jati. Demikian disampaikan Suwitono Lurah Kalurahan setempat beberapa waktu lalu di ruang kerjanya. (bdn-adn)




Postingan populer dari blog ini

MENENGOK PENINGGALAN SEJARAH DI KARAWANG

Monumen Karawang Karawang merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di Propinsi Jawa Barat, berbatasan dengan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor. Kota ini dijuluki pula kota padi. Ada begitu banyak peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di kota Karawang.  Karawang yang berjuluk kota padi atau kini dijuluki kota pangkal perjuangan ini, memang memiliki beberapa objek wisata alam dan objek wisata sejarah. Mulai dari Curug Cijalu yang terletak di Selatan Karawang, samapi objek wisata sejarah yang berkaitan erat dengan Kemerdekaan Negara Indonesia, seperti peristiwa penculikan Soekarno Hatta ke Rengas Dengklok dan peristiwa pembantaian warga sipil di Rawa Gede, dan ada pula wisata candi peninggalan Kerajaan Tarumanegara di daerah Batujaya.  Monumen Rawa Gede Dimulia dari sejarah monumen Rawagede yang terletak di Kecamatan Rawamerta . Objek wisata Monumen Rawagede ini dibangun untuk memperingati peristiwa pembantaian warga sipil oleh tentara Belanda. Monumen ini d

Diduga Oknum Notaris dan Advokad Yogya Terlibat Pemalsuan Keterangan Waris

Pengejaran Kasus Direktur  Bonbin  KMT Antonius Tirto Diprojo  Yogya ( Mediarakyat.co.id ) -  Permohonan Pra Peradilan tidak diterima Hakim tunggal Pengadilan Negeri Sleman, FX Heru Susanto S.H., M.H. (Kamis 14/12). Meski demikian Ny Ayem alias Sie Biok Ngiok (71 th) warga Jln. Kyai Mojo No. 43 kec. Tegalrejo Kota Yogyakarta, tetap tegar, tidak putus asa, dan besemangat mencari kebenaran serta keadilan hukum kepada pihak yang berwajib.  Bahkan kini pihaknya mendesak kepada penyidik Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk melanjut kasus terlapor KMT Antonius Tirto Diprojo alias Antonius Joko Tirtono, Direktur Kebon Binatang (Bonbin) Gembira Loka Yogyakarta yang telah dilaporkan tanggal 27 Oktober 2017 nomor: Lp/58/X/2017 DIY/SPKT. Baca Juga: Perusahaan Bangkrut Masih Dihukum 10 Bulan Dalam laporan itu, KMT Antonius Tirto Diprojo alias Antonius Joko Tirtono, tanggal 24 Juli 2017 sekitar pukul 11.00 WB di kantor Polda DIY, telah diduga melakukan suatu perbua

PT BPR ( Bank Perkreditan Rakyat) DEWA ARTHAKA MULYA Menjadi Salah Satu Bank Perkreditan Rakyat Terbaik di Daerah Istimewa Yogyakarta

Direktur PT BPR DEWA ARTHAKA MULYA, Rahadiyan Dewanto. SH. MKn Saat Foto Bersama Karyawan Yogyakarta ( MediaRakyat.co.id )  - PT BPR DEWA ARTHAKA MULYA yang berdiri sejak tanggal 9 Februari 2009 beralamat di Jalan Palagan Tentara Pelajar Km. 8,5 Sariharjo, Ngaglik Sleman. BPR DEWA ARTHAKA MULYA yang diawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan menjadi salah satu peserta LPS (Lembaga Penjaminan Simpanan) serta sebagai salah satu lembaga keuangan yang menunjang pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Direktur PT BPR (Bank Perkreditan Rakyat) DEWA ARTHAKA MULYA, Rahadiyan Dewanto, SH., MKn saat diwawancarai MediaRakyat.co.id pada 12/02/2019 malam disela-sela acara Malam Perayaan Tahun Baru Imlek 2570 Perhimpunan Fuqing Yogyakarta di Gedung Asia Pasific Jl. Magelang menyampaikan ada beberapa nasabah BPR DEWA ARTHAKA MULYA yang ikut di acara ini kemudian kami di